Onde-Onde Pagi

Udah sekitar 6 bulan yang lalu sewaktu berangkat kerja dari Kalibata ke arah Pancoran, ada beberapa orang yang berdiri menawarkan Onde-Onde. Kas pedagang asongan, dia kibas-kibaskan itu kotakan tempat Onde-Onde. Sempat beli 1 - 2 kali, karena pas ndak sarapan di rumah, rasanya enak lho. Aku eja tulisan di kotak itu, Onde-Onde Istimewa khas Banyumas. 5 biji Onde-Onde itu seharga dengan sebungkus nasi rendang Padang kesukaanku, Rp. 10.000,-.

Belakangan ini, mungkin sudah sebulan yang lalu, si Onde-Onde Istimewa tadi mendapat pesaing baru. Onde-Onde dari Banyumas juga, tapi apa ya namanya, karena bungkusnya masih plastik bening tanpa ada labelnya. Aku belum sempat beli, tapi menduga bahwa rasanya nggak jauh beda mestinya.

Ok, kira-kira seminggu yang lalu, aku menangkap kegelisahan dari para pengasong Onde-Onde Istimewa tadi, terlihat seperti gemas dengan kibasan-kibasan kotak Onde-Ondenya menjadi seperti dipukul-pukulkan! Kadang ke dada, ke tangan, ataupun ke kaki, sambil kakinya nge-drum-nge-drum! Khas seorang kelelahan, letih, dan jenuh menunggu.

Baru tadi pagi, aku berinisiatif membantu Incumbent yang sepertinya kalah main harga murah dari pesaingnya. Maklum, bisa jadi pesaing menurunkan harga untuk mengambil pasar Onde-Onde didukung dengan kemasan produknya yang hanya berupa plastik bening saja, tentu cost produksinya lebih murah sekitar 500 - 1.000 rupiah.

Segera aku ambil bolpen dan kertas bekas slip bayar parkir. Aku akan ngasih tips ke Onde-Onde Istimewa sang incument penyedia makanan bintik-bintik dari wijen. Tulisanku terdiri dari 2 point:

a. Bikin paket yang lebih kecil, isi 2 biji dengan harga Rp. 5.000,-
Kadang calon pembeli tidak jadi membeli karena ternyata di mobil dia hanya butuh 2 Onde-Onde untuk menemani perjalanan berangkat kantornya. Membuang/ menyisakan 3 biji dengan harga Rp. 5.000,- bagi sebagian orang adalah mubadzir atau tidak efisien.

b. Jangan kibas-kibaskan/ ombang-ambingkan/ 'obat-abit' (=Jawa) itu kotak Onde-Onde
Persepsi calon pembeli adalah seperti sebagian besar orang yang menghargai makanan dengan memuliakannya, tidak dengan 'mempermainkannya'. Menawarkan dengan mengombang-ambingkan dipersepsikan tidak menghargai makanan. Dan di sisi lain, memperbesar peluang debu masuk ke rongga-rongga bungkus Onde-Onde, yang mana hal ini dipersepsikan tidak bersih atau tidak sehat. Sebuah faktor penentu sukses untuk konsumen yang bermobil, karena terhubung dengan kebiasanya orang bermobil yang kawatir kena debu bukan?

Pesan berikutnya adalah: Ganti dengan bendera kecil dengan tulisan ”Onde-Onde Paling Enak”.

Hal ini akan dipersepsikan pengakuan diri Onde-Onde tersebut paling enak, mumpung belum ada yang mengakuinya. Indentitas diri yang pertama adalah mirip Columbus yang menemukan benua Amerika!

Aku pribadi tidak tahu secara pasti apakah kedua point tipsku tadi akan menghasilkan tingkat penjualan yang bagus. Perasaan itu sempat ada, sambil aku kasihkan Rp. 10.000,- dan lembaran tipsku tadi. Udah nothing to lose saja. Sambil aku tekan pedal gas Baleno setiaku.

 

Namun, sebentar... sepertinya ada salah satu pengasong yang berlari di mengejarku, sengaja aku pelankan laju kendaraanku. Aku buka pelan kaca jendela. “Oom, ini kotakan nggak ada isinya Onde-Onde kok!...”, begitu teriaknya terasa merendah. “Tapi, semua orang berpikir begitu”, sahutku.

 

Good, kita bersama saling belajar. Sepertinya, dia sudah membaca tulisan di kertasku. Sepertinya ada selintas senyum cerah di wajahnya. Begitu juga dengan aku.

Salam Marketing!

Love's Been Good to Me

I have been a rover
I have walked alone
Hiked a hundred highways
Never found a home
Still in all I'm happy
The reason is, you see
Once in a while along the way
Love's been good to me

There was a girl in denver
Before the summer storm
Oh, her eyes were tender
Oh, her arms were warm
And she could smile away the thunder
Kiss away the rain
Even though she's gone away
You won't hear me complain

I have been a rover
I have walked alone
Hiked a hundred highways
Never found a home
Still in all I'm happy
The reason is, you see
Once in a while along the way
Love's been good to me

There was a girl in portland
Before the winter chill
We used to go a-courtin'
Along october hill
And she could laugh away the dark clouds
Cry away the snow
It seems like only yesterday
As down the road I go

I've been a rover
I have walked alone
Hiked a hundred highways
Never found a home
Still in all I'm happy
The reason is, you see
Once in a while along the way
Love's been good to me

Pusing

Apakah yang kau pusingkan?
Mengapakah engkau pusing?
Mengapa harus pusing?
Ketika engkau meyakini Tuhanmu adalah Dzat yang Maha Pemurah dan Penyayang lebih dari segala apapun.
Mengapakah engkau tidak meminta pertolonganNya?

Atau jangan-jangan dirimu pusing karena tiada memiliki keyakinan itu?
Atau ok, mungkin punya, tapi sudah luntur?

Kalau iya, luntur karena apakah?

Mengapakah tidak kita 'netral'-kan suatu hal 'negatif' di diri kita?

Masihkah kau pusing?

Berlarilah-berlari kencanglah wahai kuda perangku!

Hakikat Panah & Waktu

Dalam Qur'an disebutkan banyak ayat-ayat terkait waktu dan penghargaan terhadap waktu, sehingga diperintahkan manusia tidak men-sia-sia-kan waktu.
Dan dalam hadist yang sangat masyhur, disebutkan Rasul menganjurkan penggunaan waktu, karena dinisbatkan waktu itu berjalan seperti anak panah yang melesat, tidak akan kembali lagi.
 
Saya sudah sejak lama memikirkan mengapa, kanjeng Nabi mencontohkan anak panah yang melesat sebagai penisbatan waktu yang berjalan.
Jawaban saya simple saja: bisa jadi konteks waktu keluarnya hadist itu, sewaktu kanjeng Nabi di masa perang yang mana waktu itu panah sebagai senjata handalan.
 
Namun, sampai beberapa waktu belakangan ini, saya masih belum puas dengan penisbatan itu, walaupun saya sudah mencari kesana kemari penjelasan hadist itu. Karena, saya masih bertanya dalam hati, mengapa kanjeng Nabi tidak menisbatkan pada: anak kuda yang berlari kencang? atau petir yang menyambar? atau air bah yang mengalir kencang? Mengapa anak panah?
 
Rupanya, saya menemukan jawabannya dari beberapa buku motivator saat ini.
Konsep anak panah itu berarti:
- ada unsur ketajaman (runcing) ujung panah
- ada unsur usaha (kekuatan) rentangan busur panah
- ada unsur tujuan / arah panah
 
Maka, sebetulnya kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan bahwa kita sebagai manusia harus memiliki tujuan/ arah yang mana harus diraih dengan selalu mengasah ketajaman (memperbanyak) modal yang dikolaborasikan dengan usaha/ kekuatan kita.
Orang memanah sebaiknya: memiliki fokus panahan (tujuan) yang tajam dan melepaskan anak panahnya pada fokus tersebut dengan kekuatan yang terukur.
Bila fokus panahan ada di Utara, mestinya kita mengarah ke Utara, bukan ke Selatan atau arah lainnya. Toh, bilapun kita tidak tepat mengenai sasaran, setidaknya panah kita sudah berjalan pada jalur yang benar! Di situ proses pembelajaran berjalan.
Bayangkan bila kita tidak punya fokus panahan? Kemana kita memanah?
 
Makna kehidupan yang dikandung adalah bahwa upaya panahan kita itulah kehidupan kita, tanpa arah yang jelas, kita pun beresiko kehilangan effort/ waktu kehidupan kita.
 
Bayangkan saja bila kita ingin keluar rumah dengan membawa uang Rp. 100 ribu naik ke Taksi dan berpesan ke sopirnya: "jalan pak", tanpa bilang tujuan kita, kira-kira apa yang akan terjadi ketika argo taksi sudah mencapai Rp. 100 ribu?
Ada beberapa kemungkinan yang akan kita temui: memperoleh hasil yang sangat buruk (bisa jadi kita diarahkan ke sarang penjahat), memperoleh hasil yang sangat bagus (bisa jadi diarahkan ke restoran yang sedang membuka makan gratis), atau... Anda akan kembali ke rumah lagi.
 
Kemungkinan resiko manakah yang akan kemungkinan besar terjadi?
Bagaimana bila itu menimpa kehidupan kita?
Bagaimana pula bila kehidupan kita itu adalah seorang yang akan memiliki keluarga, yang harus kita didik?
 
Maka, berhati-hatilah dengan waktu!

Beberapa hari yang lalu saya baca kembali suatu artikel yang dikirim oleh seorang rekan tentang Bodoh Vs Pintar. Sebetulnya saya sudah baca artikel ini beberapa bulan, mungkin setahun lebih kali ya. Komentar saya sih, itu artikel yang dikirim oleh
orang frustasi, karena merasa pintar dalam suatu perusahaan namun kariernya tidak berkembang. Sehingga dengan pongahnya menganggap Bill Gates, Steve Jobs sebagai orang bodoh yang menjadi kaya dan memperkerjakan banyak orang
pintar ahli programming/ marketing dsb.

Sekali artikel itu menurut saya adalah salah besar.

Kepintaran seseorang tidak boleh diukur oleh seberapa dia mampu menempuh jenjang pendidikan, S1, S2, dsb. Karena kepintaran itu bersifat luas dan banyak bidang. Bill Gates memang tidak lulus S1 yang mungkin di jurusan pendidikan tertentu, tapi dia memiliki kepintaran di bidang peluang dunia komputer, waktu itu. Si Pendiri Facebook begitu juga, dia mungkin tidak
lulus di S1 pendidikan teknik komputer, tapi dia punya kepintaran di bidang internet marketing!

Kesalahan lainnya adalah, ketika menghubungkan orang Bodoh tersebut sebagai orang Kaya!
Kepintaran Bill Gates adalah mampu mengendus peluang dan segera mengambil peluang, sedang para Profesor anak buah Bill Gates adalah mereka mungkin tidak mengendus peluang atau mengendus peluang tapi tidak mengambil peluang
tersebut.

Namun, demikian menurut saya terdapat benang merah keterhubungan antara Bodoh vs Pintar, Kaya vs Miskin. Menurut saya, seorang yang Pintar lebih banyak berpeluang untuk kaya, dibanding orang Bodoh. Begitu juga sebaliknya, orang yang lebih miskin memiliki kemungkinan Bodoh lebih besar dibanding orang Pintar.

Jadi kalau ditarik garis sumbu X, misalnya: di sisi paling kiri bisa jadi adalah orang paling bodoh, di titik tengah adalah tidak bodoh dan tidak pintar, dan di titik paling kanan adalah orang paling pintar. Maka, garis Miskin vs Kaya pun kurang lebih sejajar.

Pointer saya adalah:
Bahwa ternyata dalam hidup itu tidak cukup hanya Kaya vs Miskin dan Pintar vs Bodoh, karena ternyata ada satu semesta pembicaraan lain, yaitu Damai vs Tidak Damai! Dalam konteks ini, Damai vs Tidak Damai adalah melingkupi atau mendasari kedua vs di atas. Bisa jadi, orang Kaya/ Miskin tapi Tidak Damai, tapi pasti ada juga orang Kaya/Miskin yang Damai. Bisa jadi, orang Pintar/ Bodoh tapi Tidak Damai, tapi pasti ada juga orang Pintar/ Bodoh Damai.

Dalam konteks hakikat kehidupan, Damai adalah sebuah tujuan, sedangkan Kaya/Miskin dan Pintar/Bodoh adalah alat, namun tentu banyak orang yang lupa, karena lebih peduli kepada alat dibanding tujuan. Dalam konteks hakikat kehidupan Islam, Islam telah menjadi jalan kehidupan dalam menggunakan alat dan mencapai tujuan dalam aturan Islam, sehingga perilaku dan tujuannya menuju jalan lurus yang jelas, kedamaian, selamat, salam, Islam.

Kedamaian seperti disebutkan dalam Qur'an memiliki faktor-faktor antara lain: tidak takut, tidak kawatir, dan terpenuhi kebutuhannya, faktor-faktor ini terdapat dalam diri umat Islam yang taat/ Ikhlas, dinyatakan sebagai ulama.

Itulah mengapa kita diminta berpegang teguh pada tali Allah dengan mengikuti petunjuk Ulama sebagai pewaris Nabi Muhammad.

Salam untuk semua.
Shalawat selalu bagi Kanjeng Nabi Muhammad.